Perlunya
Keseimbangan Berfikir dan Intuisi Siswa
Kehidupan
merupakan suatu anugerah besar yang telah diberikan Tuhan kepada seluruh alam
semesta beserta isinya. Keteraturan dan keselarasan yang telah benar-benar
sempurna hingga semua dapat berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Kita sebagai
manusia diberi akal dan pikiran untuk dapat bertahan hidup dan mengembangkan
berbagai ilmu sehingga IPTEK berkembang pesat. Namun manusia juga harus ingat
bahwa hakikat hidup manusia itu terbatas sehingga janganlah menyombongkan diri.
Olehkarena itu dalam kehidupan sehari-hari pemikiran antara deduksi dan induksi
harus seimbang. Cara berfikir deduksi yaitu cara berfikir secara bertahap.
Sedangkan induksi itu cara berfikir yang merupakan penyimpulan dari yang umum
ke khusus.
Dalam
menyeimbangkan induksi dan deduksi diperlukan pembelajaran yang inovatif.
Inovatif bahwa tidak ada teori yang menyalahkan siswa dan tahapan-tahapan
pembelajaran yang inovatif itu meliputi diskusi, yang diikuti dengan latihan,
praktikum maupun membuat refleksi dikelas atau dirumah masing-masing. Persoalan
pada kegiatan pembelajaran itu bukan terletak pada siswa yang kurang dapat
menangkap materi namun persoalan tersebut ada pada guru yang berperan sebagai
pengajar. Semua itu terjadi karena belum dibiasakannya pembelajaran dengan
menggunakan metode diskusi secara tepat oleh pengajar.
Pengajar
harus dapat membangun komunikasi yang baik dengan pedidik agar kegiatan dan
proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Komponen komunikasi yang
dapat dibina yaitu dari komunikasi material kemudian menuju ke formal, normatif
serta spiritual. Selain itu juga sangat dibutuhkan intuisi. Intuisi merupakan
pemahaman atau pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan kapan awal mulanya,
dapat juga disebut salah satu ilham dan dapat didapatkan melalui pergaulan.
Karena intuisi berada di tindakan, kata-kata atau tulisan, ucapan, pikiran dan
hati atau spiritual. Jika anak dalam kondisi bingung maka anak tersebut sedang
kehilangan intuisinya. Intuisi memiliki banyak dimensi yaitu intuisi ruang,
waktu, jarak, kedalaman, spiritual dll. Sangat memprihatinkan bila pendidik
sekarang ini merampas intuisi yang dimiliki oleh pedidik.
Metode
berfikir juga diperlukan oleh pendidik untuk menciptakan kegiatan belajar
mengajar yang inovatif. Metode berfikir yang paling tinggi yaitu dimulai dari
hakikat, kemudian ke metode atau tata cara dan berkelanjutan dengan etika.
Semua itu berlaku untuk apapun dan ketiga-tiganya harus seimbang untuk
mencapai hasil yang maksimal dari metode berfikir tersebut. Dalam hemenitika
manusia dibagi penjadi dua yaitu pikiran (logika) dan pengalaman. Sehingga
dapat dikatakan bahwa ilmu itu merupakan gabungan dari pikiran dan pengalaman.
Pikiran atau a priori merupakan kemampuan untuk dapat merasakan atau memikirkan
yang belum terjadi. Sedangkan a posteriosi atau pengalaman merupakan kemampuan
untuk dapat merasakan atau memikirkan yang sudah terjadi. Seperti dalam
matematika yang harus sintetik atau sudah ada pengalamannya.
Dari
semua uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidik sekarang ini harus
benar-benar memiliki kemampuan skill yang memadai dan profesional dalam
mendidik para siswa dan siswinya. Menggunakan metode yang terstruktur dan
inovasi dalam menyampaikan ilmu atau memberi pendidikan. Jika terjadi sedikit
saja kesalahan dalam proses pembelajaran maka akan berakibat fatal bagi pedidik
yang merupakan generasi penerus. Oleh karena itu sebagai calon pendidik kita
harus dapat memberi ruang pada siswa untuk dapat bereksplorasi serta berupaya
menyeimbangkan pola berfikir dan mengembangkan intuisi yang mereka miliki.