Total Tayangan Halaman

Jumat, 22 Februari 2013

Refleksi 14 feb 2013 : PENDIDIKAN



Pendidikan merupakan penyampaian pengetahuan, nilai, dan kecakapan oleh pendidik kepada pedidik. Pengetahuan, nilai dan kecakapan merupakan terjemahan dari “knowledge, value and skills”. Berawal dari sebuah niat dan kemudian terus berkembang menjadi sikap. Karena telah bersikap itulah menjadikan berpengetahuan, berkembang menjadi kemampuan dan pengalaman. Pendidikan atau kegiatan mendidik merupakan kegiatan yang mengembangkan segala kemampuan dasar atau bawaan yang bersifat rohaniah dan jasmaniah. Kemampuan dasar rohaniah meliputi motivasi, kemauan, minat dan psikomotorik sedangkan jasmaniah menggunakan organ organ tubuh.
Murid merupakan subyek didik dan bukan merupakan objek yang dapat diperlakukan dengan semau guru atau pendidik. Mengubah model pendidikan yang tradisional pun kini tidak mudah, model pendidikan tersebut sudah menjadi suatu budaya dan jika ingin merubahnya membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak  karena harus merubah subkultur pendidikan yang harus dirombak dari dasarnya atau harus memulai dari awal. Namun jika semuanya sudah berasal dari diri sendiri atau merupakan suatu kesadaran diri sendiri semua itu dapat terlaksana. Peran guru juga sangat penting untuk membangun kesadaran tersebut pada diri siswa. Dengan melakukan kegiatan pembelajaran yang inovatif tidak monoton dan bervariasi setiap kali kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Memberi ruang untuk berdiskusi di dalam maupun diluar kegiatan belajar mengajar agar siswa dapat mencari informasi atau bertanya dimanapun dan kapanpun dengan guru.

Rabu, 20 Februari 2013

refleksi elegi

Setelah membaca elegi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem pembelajaran selama ini masih jauh dari yang kita harapkan hasilnya. Seharusnya murid diberi kebebasan untuk mengeksplor bagaimana belajar dengan cara mereka sendiri. Bukan siswa yang terus menjadi boneka dalam ruangan dengan mendengarkan guru mengajar di depan kelas yang selalu mendikte catatan, menjelaskan teori dan materi secara panjang lebar kemudian menuntut para siswa untuk dapat mengerjakan soal yang diberikan. Sehingga tercermin bahwa guru berperan sebagai diktaktor di dalam kelas yang terus menekan murid-muridnya. Berpendapat bahwa murid itu selalu menjadi cawan kosong, padahal mereka juga sudah mengetahui berbagai pengetahuan yang mereka miliki selama proses yang mereka jalani. Akan lebih baik jika guru benar benar mengetahui karakteristik masing-masing murid sehingga akan lebih mudah untuk guru mengetahui perkembangan-perkembangan anak didiknya. Model-model pembelajaranpun harus bervariasi agar murid murid tidak bosan dan berikan ruang konsultasi agar para murid dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Elegi tersebut telah membuka mata para pembaca terutama pembaca yang bercita-cita menjadi pendidik, calon guru bahkan yang sudah menjadi guru sekalipun. Dan jika ingin benar-benar menjadi guru yang baik hendaknya kita mengetahui apa yang murid kita inginkan dalam proses dan kegiatan belajar-mengajar.