Total Tayangan Halaman

Senin, 03 Juni 2013

Dimensi ke-empat


Alam semesta beserta seluruh isinya ini terdiri dari dimensi-dimensi. Dimensi yang terdiri dari dimensi rendah ke dimensi yang lebih tinggi. Dimana yang berada pada dimensi rendah tidak dapat melihat ke dimensi yang lebih tinggi, akan tetapi yang berada pada dimensi yang tinggi dapat melihat ke dimensi yang lebih rendah.

Yang saya ketahui mengenai dimensi ke-empat adalah mengenai hubungan manusia dengan Tuhannya. Yang mana hubungan tersebut diketahui oleh Tuhan yang maha mengetahui dengan masing-masing dari manusia itu sendiri dan masih terikat dengan dimensi ruang dan waktu. Namun Tuhan tidak berada pada dimensi manapun, karena Tuhan tidak menyerupai apa yang telah diciptakan oleh-Nya. Sehingga Tuhan bukan merupakan suatu materi yang menempati suatu ruang dimensi karena Tuhan tidak membutuhkan dimensi dalam menempatkan diri-Nya.

Kamis, 07 Maret 2013

Refleksi 28 Februari 2013 _ Perlunya Keseimbangan Berfikir dan Intuisi Siswa


Perlunya Keseimbangan Berfikir dan Intuisi Siswa
Kehidupan merupakan suatu anugerah besar yang telah diberikan Tuhan kepada seluruh alam semesta beserta isinya. Keteraturan dan keselarasan yang telah benar-benar sempurna hingga semua dapat berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Kita sebagai manusia diberi akal dan pikiran untuk dapat bertahan hidup dan mengembangkan berbagai ilmu sehingga IPTEK berkembang pesat. Namun manusia juga harus ingat bahwa hakikat hidup manusia itu terbatas sehingga janganlah menyombongkan diri. Olehkarena itu dalam kehidupan sehari-hari pemikiran antara deduksi dan induksi harus seimbang. Cara berfikir deduksi yaitu cara berfikir secara bertahap. Sedangkan induksi itu cara berfikir yang merupakan penyimpulan dari yang umum ke khusus.
Dalam menyeimbangkan induksi dan deduksi diperlukan pembelajaran yang inovatif. Inovatif bahwa tidak ada teori yang menyalahkan siswa dan tahapan-tahapan pembelajaran yang inovatif itu meliputi diskusi, yang diikuti dengan latihan, praktikum maupun membuat refleksi dikelas atau dirumah masing-masing. Persoalan pada kegiatan pembelajaran itu bukan terletak pada siswa yang kurang dapat menangkap materi namun persoalan tersebut ada pada guru yang berperan sebagai pengajar. Semua itu terjadi karena belum dibiasakannya pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi secara tepat oleh pengajar.
Pengajar harus dapat membangun komunikasi yang baik dengan pedidik agar kegiatan dan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Komponen komunikasi yang dapat dibina yaitu dari komunikasi material kemudian menuju ke formal, normatif serta spiritual. Selain itu juga sangat dibutuhkan intuisi. Intuisi merupakan pemahaman atau pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan kapan awal mulanya, dapat juga disebut salah satu ilham dan dapat didapatkan melalui pergaulan. Karena intuisi berada di tindakan, kata-kata atau tulisan, ucapan, pikiran dan hati atau spiritual. Jika anak dalam kondisi bingung maka anak tersebut sedang kehilangan intuisinya. Intuisi memiliki banyak dimensi yaitu intuisi ruang, waktu, jarak, kedalaman, spiritual dll. Sangat memprihatinkan bila pendidik sekarang ini merampas intuisi yang dimiliki oleh pedidik.
Metode berfikir juga diperlukan oleh pendidik untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang inovatif. Metode berfikir yang paling tinggi yaitu dimulai dari hakikat, kemudian ke metode atau tata cara dan berkelanjutan dengan etika. Semua itu berlaku untuk apapun dan ketiga-tiganya harus seimbang untuk mencapai hasil yang maksimal dari metode berfikir tersebut. Dalam hemenitika manusia dibagi penjadi dua yaitu pikiran (logika) dan pengalaman. Sehingga dapat dikatakan bahwa ilmu itu merupakan gabungan dari pikiran dan pengalaman. Pikiran atau a priori merupakan kemampuan untuk dapat merasakan atau memikirkan yang belum terjadi. Sedangkan a posteriosi atau pengalaman merupakan kemampuan untuk dapat merasakan atau memikirkan yang sudah terjadi. Seperti dalam matematika yang harus sintetik atau sudah ada pengalamannya.
Dari semua uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidik sekarang ini harus benar-benar memiliki kemampuan skill yang memadai dan profesional dalam mendidik para siswa dan siswinya. Menggunakan metode yang terstruktur dan inovasi dalam menyampaikan ilmu atau memberi pendidikan. Jika terjadi sedikit saja kesalahan dalam proses pembelajaran maka akan berakibat fatal bagi pedidik yang merupakan generasi penerus. Oleh karena itu sebagai calon pendidik kita harus dapat memberi ruang pada siswa untuk dapat bereksplorasi serta berupaya menyeimbangkan pola berfikir dan mengembangkan intuisi yang mereka miliki.

Jumat, 22 Februari 2013

Refleksi 14 feb 2013 : PENDIDIKAN



Pendidikan merupakan penyampaian pengetahuan, nilai, dan kecakapan oleh pendidik kepada pedidik. Pengetahuan, nilai dan kecakapan merupakan terjemahan dari “knowledge, value and skills”. Berawal dari sebuah niat dan kemudian terus berkembang menjadi sikap. Karena telah bersikap itulah menjadikan berpengetahuan, berkembang menjadi kemampuan dan pengalaman. Pendidikan atau kegiatan mendidik merupakan kegiatan yang mengembangkan segala kemampuan dasar atau bawaan yang bersifat rohaniah dan jasmaniah. Kemampuan dasar rohaniah meliputi motivasi, kemauan, minat dan psikomotorik sedangkan jasmaniah menggunakan organ organ tubuh.
Murid merupakan subyek didik dan bukan merupakan objek yang dapat diperlakukan dengan semau guru atau pendidik. Mengubah model pendidikan yang tradisional pun kini tidak mudah, model pendidikan tersebut sudah menjadi suatu budaya dan jika ingin merubahnya membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak  karena harus merubah subkultur pendidikan yang harus dirombak dari dasarnya atau harus memulai dari awal. Namun jika semuanya sudah berasal dari diri sendiri atau merupakan suatu kesadaran diri sendiri semua itu dapat terlaksana. Peran guru juga sangat penting untuk membangun kesadaran tersebut pada diri siswa. Dengan melakukan kegiatan pembelajaran yang inovatif tidak monoton dan bervariasi setiap kali kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Memberi ruang untuk berdiskusi di dalam maupun diluar kegiatan belajar mengajar agar siswa dapat mencari informasi atau bertanya dimanapun dan kapanpun dengan guru.

Rabu, 20 Februari 2013

refleksi elegi

Setelah membaca elegi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem pembelajaran selama ini masih jauh dari yang kita harapkan hasilnya. Seharusnya murid diberi kebebasan untuk mengeksplor bagaimana belajar dengan cara mereka sendiri. Bukan siswa yang terus menjadi boneka dalam ruangan dengan mendengarkan guru mengajar di depan kelas yang selalu mendikte catatan, menjelaskan teori dan materi secara panjang lebar kemudian menuntut para siswa untuk dapat mengerjakan soal yang diberikan. Sehingga tercermin bahwa guru berperan sebagai diktaktor di dalam kelas yang terus menekan murid-muridnya. Berpendapat bahwa murid itu selalu menjadi cawan kosong, padahal mereka juga sudah mengetahui berbagai pengetahuan yang mereka miliki selama proses yang mereka jalani. Akan lebih baik jika guru benar benar mengetahui karakteristik masing-masing murid sehingga akan lebih mudah untuk guru mengetahui perkembangan-perkembangan anak didiknya. Model-model pembelajaranpun harus bervariasi agar murid murid tidak bosan dan berikan ruang konsultasi agar para murid dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Elegi tersebut telah membuka mata para pembaca terutama pembaca yang bercita-cita menjadi pendidik, calon guru bahkan yang sudah menjadi guru sekalipun. Dan jika ingin benar-benar menjadi guru yang baik hendaknya kita mengetahui apa yang murid kita inginkan dalam proses dan kegiatan belajar-mengajar.